Senin, 16 Januari 2012

BAGAIMANA KITA SIBUK MEMIKIRKAN HIDUP

Hidup ini tak ubahnya panggung sandiwara, dimana setiap insan memiliki peran yang harus dilakoni dengan sebaik baiknya sekali salah melakoni peran maka menyesal sepanjang jalan, namun demikian apa apa yang dijalani tentu saja melalui pemikiran yang sudah sangat diperhitungkan.Dalam perjalanan hidup sering kali tidak melalui jalan yang mulus, banyak rintangan yang harus dihadapi dengan pemikiran yang lapang sebab jika pemikiran kusut tak akan pernah menemukan jalan menuju terangNya.Terkadang rintangan itu seprti sebuah permainan yang sungguh sangat melelahkan.

Dalam kitab suci manapun telah disebutkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Namun hakekatnya, setiap makhluk hidup tidak akan pernah mengalami kematian.makhluk yang telah mati, maka hanya kehilangan jasadnya saja. Namun rohnya tetap hidup untuk selamanya. Ia akan mengalami pengembaraan hingga akhirnya menghadap GUSTI ALLAH.

Lalu mengapa kita sibuk dengan persoalan yang hanya sementara ini, inipun sering menjadi pertanyaan diri.
Orang Jawa pasti sering mendengar kalimat "Urip Iku Ibarat Wong Mampir Ngombe".  dalam kalimat itu  sebenarnya kita disuruh untuk memahami dan belajar bahwa sebelumnya kita pernah hidup, dan ketika kita hidup di dunia maka kita hakekatnya adalah beristirahat sebentar.


~Gitanjali – Rabindranath Tagore ~
hari demi hari membuatku berharga dengan pemberian sederhana dan agung ,yang kau berikan padaku tanpa diminta langit dan cahaya,tubuh ini dan pikiran menyelamatkanku dari bahaya yang berlebih.


Membaca kutipan puisi R. Tagore membuatku tercenung. Betapa tidak, dalam kata-kata indah itu adalah ungkapan rasa syukur dan terimakasih atas kehidupan yang dianugerahkan. Puisi itu seolah mengingatkanku, bahwa hidup adalah sebuah pemberian sederhana dan agung yang menjadikan diri kita berharga.Tapi mengapa kita hanya sibuk berputar putar tak tentu arah.Hingga lupa memikirkan bahwa kematian itu sudah begitu dekatnya.

Enggannnya orang membicarakan mati mungkin disebabkan rasa takut yang berlebihan karena merasa diri belum siap menerima datangnya maut. Merasa dirinya belum memiliki tabungan berupa amal ibadah yang mencukupi untuk menyongsong kehidupan sesudah mati (alam barzah). Atau juga, sama sekali tidak mempedulikan hal yang satu ini, karena sudah begitu lupa dan hanyut dalam kesenangan dan kenikmatan duniawi semata. Tidak mengherankan kalau kuburan menjadi salah satu tempat yang paling sepi di muka bumi. 

Bumi kita seperti debu. Diatas debu itu terdapat jutaan manusia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam kesibukaan kerja dan aktivitas duniawi lainnya. Di atas muka bumi pula kita menemukan orang-orang yang berjalan sambil membusungkan dada ke depan (menyombongkan diri) karena kekuasaan yang mereka miliki, istana megah, uang ,anak isteri  yang dibanggakan. 

difirmankan Allah dalam surat Al Ashr yang artinya
1.demi masa
2.Sesungguhnya manusia itu benar benar dalam kerugian
3.Kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan menasehati menasehati supaya menetapi kesabaran.

Sungguh aku mengelepar dalam perenungan yang membuat aku benar benar terdiam dari segala penjuru mata angin.

“Seberapa banyak aku telah mencintai?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar